PERJUANGAN
DEMPIS
Melihat kehidupan masyarakat
disekitarku membuat ku ingin membuat lembaran baru yang mampu menutup lembaran
lama yang sudah mendarah daging bagi masyakat berkulit putih di puncak gunung
kapur, mereka berkulit putih namun ku jarang sekali merasakan indahnya
melihatnya anak sekolah dengan baju putih dengan rok abu-abu berlalu lilang
melangkah menuju ke perubahan peradaban
tetapi lebih banyak setelah musim ujian seperti ini mereka berlibur
sebelum merantau untuk kerja di pabrik. Anggapan masyarakat sangat kuat buat
apa sekolah toh ujung-ujungnya pinter buat ngebodohin orang yang bodoh. Tak dapat disalahkan kehidupan dengan roda
perekonomian sangat kekurangan bertanam hutang, panen buat ngelunasin hutang
dan makakan serba pas-pasan.
Ku hanya seorang gadis kecil dengan
hidung pesek, dempislah nama panggilanku sejak kecil di puncak gunung kapur ini.
Ku berjalan sendiri, memisahkan diri dari rombongan seperti punakwan tapi perempuan
semua. Tiga sekawan pergi menjinjing
tas ransel mini dengan pakaian rapih hendak pergi liburan
kepantai, sedangkan aku harus menyebrang jalan turun ke sawah dengan lumpur
yang begitu dalam. Terasa iri saat melihat teman-teman satu rombongan ku pergi
berlibur tapi keadaan ku menuntutku untuk membantu bapak dan ibu menanam padi
di sawah milik juragan Mardam, terasa
sedih hati ini sangat dalam merasakan iri terkuak dalam hati mengepa ku harus hidup di kaki puncak gunung kapur dan menjadi salah satu orang yang kurang
mampu sambil gerunekku dalam hati sambil tangan menanam padi. Pikiran ku sudah
gusang sejak baru datang, sedangkan bapak
yang sedari subuh sudah berangkat masih semangat meski di baju dan wajah
sudah banyak keringat. Tangan sudah mulai terasa dingin kaki terasa lelah waktu
siang semakin membakar iri dan tenaga yang ku miliki.
“Dempis kamu kenapa diam saja biasanya sambil bekerja
gini kamu paling sering cerita? kalau
kamu lelah istirahatlah dibawah pohon pisang milik juragan tadi ibu sudah
membawa pisang sama ubi bakar di kerendeng” Tanya ibu padaku.
“Ku meneteskan air mata ,,ga bu, ga capek ko
dempis” jawabku.
“Kenapa dempis
menangis, ibu kan tadi hanya minta dempis istirahat ituppun kalo dempis mau? Tanya ibu dengan halus.
“Bu kenapa
dempis harus begini sih bu,,,, dempis cape , dempis iri sama teman-teman yang
bisa liburan ke pantai sedangkan dempis harus menanam padi di sawah juragan, dempis juga mau serperti
teman-teman main, jajan, gak seperti ini. Cuma dempis bu, yang ngelakuin kaya
gini teman-teman ga ada yang mau dan diminta orang tua nya buat ke sawah jadi
kuli tanem padi. Dempis malu bu,,,,,!”jawabku sambil menangis dan keringat
bercucuran.
“Dempis malu
jadi anak bapak sama ibu, malu jadi orang yang gak punya, malu jadi kuli tanem
padi, apa dempis pikir bapak mau kamu terus begini punya nasib yng sama kaya
bapak lan ibu mu, mbok yo kamu pikir, bapak ibu rela panas-panasan go sopo
kalau bukan buat mu? Dempis kamu ga putih gak tinggi tapi bapak tahu pikiran
kamu pinter, kamu punya cita-cita jadi guru itu bagus setidaknya kamu akan
lebih baik keadaannya dari bapak dan ibu
yang hanya kuli tanam juragan mardam. Bapak pesen satu hal sama kamu dempis
harus UUT ” Usaha, Ulet, Tekun” mudah-mudahan dempis cepat ngerti makasud bapak
sama ibu ngajak dempis hidup kaya gini” jawab ayah dengan nada naik
“Sudah pak,,,
dempis udah nangis kaya gitu loh pak. Pak tadi itu mungkin karena dempis capek,
ya kan dempis,,? saut ibu untuk membuat suasana di sawah menjadi tidak tegang
karna ayah sudah mulai naik darah tersinggung dengan ucapan ku barusan. Sejenak ayah dan ibu termenung dengan raga
terus bekerja nanam padi harus terus melangkah berat di atas lumpur yang sangat
membuat badan lelah.
“ Pak dempis
minta maaf ya,,?” jawab ku sambil berlinang air mata.
Tak terasa suara adzan sudah
terdengar menandakan waktu untuk segera pulang dan sawah sudah terlihat
tertanami yang pasti tugas hari ini selasai sampai disini. Kaki ku melangkah
pulang dengan berat masih terbawa pikiran kotor seperti lumpur di kaki,
menyesal daam hati kaerna belum mampu
memahami hidup di tengah keluarga pas-pasan soal ke uangan semua butuh
perjuanagan tidak bisa hidup mewah apalagi malas-malasan. Kehidupan ku memang
kelam kurang uang tapi ku merasa berlimang kasih sayang dan jujur ku masih
berharap bisa kuliah agar ku bisa jadi guru sedangkan sekarang ujian nasional
SMA ku sudah selesai saat ini ku hanya mampu melihat nasib yang sudah dua
minggu ku tungg, menunggu pengumuman
diterima diperguruan tinggi inpian ku.
Kondisi badan yang sudah terkuras
tenaga terasa nikmat makan bersama bapak dan ibu di ruang makan selagi menunggu
nasi matang ayah menyeruput kopi hitam dan ku harus menunggu di depan tungku
agar nasi cepat matang. Tempe goreng dan sambal sudah terhidang nasi sudah matang
saat makan telah datang. Nikmat hidup saat di tengah keluarga susah senang bersama
itu memang indah rasanya.
Suara Pak Pos datang ada sebuah
surat datang untuk ku, dengan segera ku beranjak dan menghapiri si tukang
Pos. ternyata sebuah pengumuman diterima
diperguruan tinggi negeri sesuai dengan cita-cita ku sejak dulu ingin menjadi
seorang guru agar mampu berbakti ada bangsa dan Negara meski hanya melalui
sebuah ilmu. Tak ku sangka- sangka aku di terima. Tapi ku tertunduk lesu,
setelah membaca surat itu untuk segera registrasi sekian juta Rupiah. Untuk
makan saja susah apalagi untuk biaya sekolah atau mana bisa seorang anak petani kuli tanam bisa
kuliah itu pasti hanya khayalan semata yang akan pergi seperti pak pos yang
semakin jauh meninggalkan rumahku.
Bapak melihat ku saat pertama membuka
surat itu senang setelah beberapa menit wajahku berubah menjadi muram dan
terunduk lesu seakan harapan punah, tapi bapaku berbicara “Dempis kamu kenapa
sedih?”
“Pak dempis
sudah diterima di perguruan tinggi negeri tapi kita gak ada biaya kan pak, bu?”
tanyaku dengan lesu.
“Sudah jangan
memikirkan masalah uang kamu siapin pikiran buat kuliah dempis aja ya,,, uang
biar bapak sama ibu yang usaha, syukur kita sudah belajar nabung buat kuliah
kamu sejak kamu kelas satu SD pada juragan mardam, tiap kali kita kerja kita
bayarannya dibukukan atau ditabung jadi buat bekel kamu kuliah sekarang sudah
cukup kalau buat bayar registrasi kamu
dempis” jawan ibu.
Senang sedih hari ini terasa
lengkap, tanpa ku sadari meski kehidupan
di kaki gunung kapur butuh perjuangan tapi masih untung ada orang tua yang
sudah mampu berfikir panjang dan tidak lagi bersemboyan buat apa anak perempuan
sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya di dapur dan semboyan makan gak makan asal
kumpul. Pendidikan sudah mulai dirasa penting meski hanya segelintir orang yang
berfikir demikian seperti bapak ibuku meski mereka hanya lulusan SD tapi
pikirannya lebih baik sehingga nasib ku berbeda dari kawan kawan ku sebagian besar orang tua mereka lebih senang
mendapat uang sekarang dengan mengirim anaknya untuk jadi karyawan pabrik. Tanpa
berfikir panjang nasib setelah selesai jadi karyawan. Tidak bisa di pungkiri ku bangga dengan perjuangan
orang tua yang bekerja bertahun-tahun menabung untuk persiapan anaknya sekolah
hingga tercapai cita-cita anaknya. PR
untuk ku sekarang harus bisa hidup jauh dari orang tua di tanah jawara aku
berada meski tak berkumpul lagi dengan orang tua dalam beberapa tahun ku harus
bisa melewatinya sebagai tanda kesungguhan ku ingin menjadi pendidik agar
bangsa ini maju melalui jalan pendidikan suatu langkah pasti. Membuktikan pada
masyarakat orang yag pintar tidak akan
membodohi orang yang bodoh tapi berkewajiban membuat orang lain itu menjadi
pintar pula sehingga masyarakat semakin berminat untuk mau melangkah ke jenjang
sekolah yang lebih tinggi sampai tercapai cita-cita bangsa Indonesia ini.
#Karya Asta Tuti