Senin, 28 September 2015

Cerpen



PERJUANGAN DEMPIS
   
            Melihat kehidupan masyarakat disekitarku membuat ku ingin membuat lembaran baru yang mampu menutup lembaran lama yang sudah mendarah daging bagi masyakat berkulit putih di puncak gunung kapur, mereka berkulit putih namun ku jarang sekali merasakan indahnya melihatnya anak sekolah dengan baju putih dengan rok abu-abu berlalu lilang melangkah menuju ke perubahan peradaban  tetapi lebih banyak setelah musim ujian seperti ini mereka berlibur sebelum merantau untuk kerja di pabrik. Anggapan masyarakat sangat kuat buat apa sekolah toh ujung-ujungnya pinter buat ngebodohin orang yang bodoh.  Tak dapat disalahkan kehidupan dengan roda perekonomian sangat kekurangan bertanam hutang, panen buat ngelunasin hutang dan makakan serba pas-pasan.
            Ku hanya seorang gadis kecil dengan hidung pesek, dempislah nama panggilanku sejak kecil di puncak gunung kapur ini. Ku berjalan sendiri, memisahkan diri dari rombongan seperti punakwan tapi perempuan semua. Tiga  sekawan pergi menjinjing tas  ransel mini  dengan pakaian rapih hendak pergi liburan kepantai, sedangkan aku harus menyebrang jalan turun ke sawah dengan lumpur yang begitu dalam. Terasa iri saat melihat teman-teman satu rombongan ku pergi berlibur tapi keadaan ku menuntutku untuk membantu bapak dan ibu menanam padi di sawah milik juragan Mardam,  terasa sedih hati ini sangat dalam merasakan iri terkuak dalam hati mengepa ku  harus hidup di kaki puncak gunung  kapur dan menjadi salah satu orang yang kurang mampu sambil gerunekku dalam hati sambil tangan menanam padi. Pikiran ku sudah gusang sejak baru datang, sedangkan bapak  yang sedari subuh sudah berangkat masih semangat meski di baju dan wajah sudah banyak keringat. Tangan sudah mulai terasa dingin kaki terasa lelah waktu siang semakin membakar iri dan tenaga yang ku miliki.
“Dempis  kamu kenapa diam saja biasanya sambil bekerja gini kamu paling sering cerita? kalau  kamu lelah istirahatlah dibawah pohon pisang milik juragan tadi ibu sudah membawa pisang sama ubi bakar di kerendeng” Tanya ibu padaku.
“Ku  meneteskan air mata ,,ga bu, ga capek ko dempis” jawabku.
“Kenapa dempis menangis, ibu kan tadi hanya minta dempis istirahat ituppun  kalo dempis mau? Tanya ibu dengan halus.
“Bu kenapa dempis harus begini sih bu,,,, dempis cape , dempis iri sama teman-teman yang bisa liburan ke pantai sedangkan dempis harus menanam padi  di sawah juragan, dempis juga mau serperti teman-teman main, jajan, gak seperti ini. Cuma dempis bu, yang ngelakuin kaya gini teman-teman ga ada yang mau dan diminta orang tua nya buat ke sawah jadi kuli tanem padi. Dempis malu bu,,,,,!”jawabku sambil menangis dan keringat bercucuran.
“Dempis malu jadi anak bapak sama ibu, malu jadi orang yang gak punya, malu jadi kuli tanem padi, apa dempis pikir bapak mau kamu terus begini punya nasib yng sama kaya bapak lan ibu mu, mbok yo kamu pikir, bapak ibu rela panas-panasan go sopo kalau bukan buat mu? Dempis kamu ga putih gak tinggi tapi bapak tahu pikiran kamu pinter, kamu punya cita-cita jadi guru itu bagus setidaknya kamu akan lebih baik keadaannya dari bapak  dan ibu yang hanya kuli tanam juragan mardam. Bapak pesen satu hal sama kamu dempis harus UUT ” Usaha, Ulet, Tekun” mudah-mudahan dempis cepat ngerti makasud bapak sama ibu ngajak dempis hidup kaya gini” jawab ayah dengan nada naik
“Sudah pak,,, dempis udah nangis kaya gitu loh pak. Pak tadi itu mungkin karena dempis capek, ya kan dempis,,? saut ibu untuk membuat suasana di sawah menjadi tidak tegang karna ayah sudah mulai naik darah tersinggung dengan ucapan ku barusan.  Sejenak ayah dan ibu termenung dengan raga terus bekerja nanam padi harus terus melangkah berat di atas lumpur yang sangat membuat badan lelah.
“ Pak dempis minta maaf ya,,?” jawab ku sambil berlinang air mata.
            Tak terasa suara adzan sudah terdengar menandakan waktu untuk segera pulang dan sawah sudah terlihat tertanami yang pasti tugas hari ini selasai sampai disini. Kaki ku melangkah pulang dengan berat masih terbawa pikiran kotor seperti lumpur di kaki, menyesal daam hati kaerna  belum mampu memahami hidup di tengah keluarga pas-pasan soal ke uangan semua butuh perjuanagan tidak bisa hidup mewah apalagi malas-malasan. Kehidupan ku memang kelam kurang uang tapi ku merasa berlimang kasih sayang dan jujur ku masih berharap bisa kuliah agar ku bisa jadi guru sedangkan sekarang ujian nasional SMA ku sudah selesai saat ini ku hanya mampu melihat nasib yang sudah dua minggu ku tungg,  menunggu pengumuman diterima diperguruan tinggi inpian ku.
            Kondisi badan yang sudah terkuras tenaga terasa nikmat makan bersama bapak dan ibu di ruang makan selagi menunggu nasi matang ayah menyeruput kopi hitam dan ku harus menunggu di depan tungku agar nasi cepat matang. Tempe goreng dan sambal sudah terhidang nasi sudah matang saat makan telah datang. Nikmat hidup saat di tengah keluarga susah senang bersama itu memang indah rasanya.
            Suara Pak Pos datang ada sebuah surat datang untuk ku, dengan segera ku beranjak dan menghapiri si tukang Pos.  ternyata sebuah pengumuman diterima diperguruan tinggi negeri sesuai dengan cita-cita ku sejak dulu ingin menjadi seorang guru agar mampu berbakti ada bangsa dan Negara meski hanya melalui sebuah ilmu. Tak ku sangka- sangka aku di terima. Tapi ku tertunduk lesu, setelah membaca surat itu untuk segera registrasi sekian juta Rupiah. Untuk makan saja susah apalagi untuk biaya sekolah atau mana  bisa seorang anak petani kuli tanam bisa kuliah itu pasti hanya khayalan semata yang akan pergi seperti pak pos yang semakin jauh meninggalkan rumahku.
            Bapak melihat ku saat pertama membuka surat itu senang setelah beberapa menit wajahku berubah menjadi muram dan terunduk lesu seakan harapan punah, tapi bapaku berbicara “Dempis kamu kenapa sedih?”
“Pak dempis sudah diterima di perguruan tinggi negeri tapi kita gak ada biaya kan pak, bu?” tanyaku dengan lesu.
“Sudah jangan memikirkan masalah uang kamu siapin pikiran buat kuliah dempis aja ya,,, uang biar bapak sama ibu yang usaha, syukur kita sudah belajar nabung buat kuliah kamu sejak kamu kelas satu SD pada juragan mardam, tiap kali kita kerja kita bayarannya dibukukan atau ditabung jadi buat bekel kamu kuliah sekarang sudah cukup kalau  buat bayar registrasi kamu dempis” jawan ibu.
            Senang sedih hari ini terasa lengkap, tanpa  ku sadari meski kehidupan di kaki gunung kapur butuh perjuangan tapi masih untung ada orang tua yang sudah mampu berfikir panjang dan tidak lagi bersemboyan buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya di dapur dan semboyan makan gak makan asal kumpul. Pendidikan sudah mulai dirasa penting meski hanya segelintir orang yang berfikir demikian seperti bapak ibuku meski mereka hanya lulusan SD tapi pikirannya lebih baik sehingga nasib ku berbeda dari kawan kawan ku  sebagian besar orang tua mereka lebih senang mendapat uang sekarang dengan mengirim anaknya untuk jadi karyawan pabrik. Tanpa berfikir panjang nasib setelah selesai jadi karyawan. Tidak   bisa di pungkiri ku bangga dengan perjuangan orang tua yang bekerja bertahun-tahun menabung untuk persiapan anaknya sekolah hingga tercapai cita-cita anaknya.  PR untuk ku sekarang harus bisa hidup jauh dari orang tua di tanah jawara aku berada meski tak berkumpul lagi dengan orang tua dalam beberapa tahun ku harus bisa melewatinya sebagai tanda kesungguhan ku ingin menjadi pendidik agar bangsa ini maju melalui jalan pendidikan suatu langkah pasti. Membuktikan pada masyarakat  orang yag pintar tidak akan membodohi orang yang bodoh tapi berkewajiban membuat orang lain itu menjadi pintar pula sehingga masyarakat semakin berminat untuk mau melangkah ke jenjang sekolah yang lebih tinggi sampai tercapai cita-cita bangsa Indonesia ini.

#Karya Asta Tuti





Tidak ada komentar:

Posting Komentar