Senin, 28 September 2015

CERPEN



“Sepercik Mutiara Di Kaki Gunung Kapur”

            Terasa hembusan angin pagi dengan cahaya yang masih meredup diufuk timur gunung kapur, rerumputan basah di depan rumah, ayam mulai keluar dari kandang, suara merdu indah di dengar telinga dari teriakan si ayam jago kesayangan ayah, ayah yang sedang menikmati ketenangan dan kesunyian pagi di teras rumah selagi menungu mentari pagi memperihatkan diri.  Dengan kostum khasnya ayah setiap pagi dengan membawa karung putih  yang biasa digunakan saat mencari rumput  di sawah dekat kaki gunung kapur. Kehangatan sang mentari menemani ayahku beranjak dari singgahannya di teras rumah dengan semangat.
            Saat ayah beranjak ku memulai hari dengan melangkah membersihkan pelataran rumah cukup dengan mengunakan  tanganku yang masih merasa  dingin terkena embun pagi yang begitu tebal, ku bisa melihat di sebelah barat rumahku terdapat sepetak sawah dengan padi yang mulai merunduk berwarna kuning yang berarti  sebentar lagi musim panen padi. Tapi  saat ku mulai berjalan melihat dibelakang rumah terlihat beberapa macam tanaman berdaun hijau hanya pohon singkong dan pisang, hembusan nagin membuat hidungku mencium harum masakan menyerbak dari dapur rumahku,  ini pertanda aku harus segera menyesaikan tugasku dan bisa segera menikmati sajian yang sudah ibu persiapkan, tak sadar  tangan ku tertusuk duri dari bunga putri malu dan durinya membatku menangis, seperti anak bayi. Malu terasa menusuk hati seperti duri dalam diri karena ku takut dengan darah yang ada ditanganku. Namun sentuhan ibu membuatku merasa seperti rumput yang mendapat sentuhan angin halus dan membendung rasa sakit, dengan senyuman ku tersipu malu pada ibu. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah keanak-anakan ku yang belum usai meski usiaku sudah masuk masa remaja.
            Sinar matahari semakin terang dan menandakan ayah pulang dengan membawa sekarung rumput yang hijau untuk kuda dan kambing dengan keringat bercucuran, terasa  berat hidup di kaki gunung kapur meski dekat dengan area persawahan dan tak tertinggal kebun menjadi bagian dari keseharian keluargaku. Seperti biasa ayah bergegas mandi dan sarapan dengan beberapa potong  rebusan singkong dan pisang. Tak  sengaja ku berkata ” Pak apa ga bosan  tiap pagi kita makannya kaya gitu ajah? Beli roti sama susu atau apalah biar enak”.
            “ kalau mengikuti zaman yang semakin maju kita bisa hidup seperti orang kota, apa itu yang kamu inginkan nak?” jawab ibu selagi mencairkan suasana
            “ Maksud ku ga begitu loh bu,,,apa sih enaknya kita sarapan pagi dengan singkong dan pisang, apalagi bapak hampir setiap pagi, iya ga pak?” Ujarku memperkuat pertanyaan mencari dukungan dari bapak. “Udah makan saja nak, bukannya bersyukur masih bisa makan, jadi anak kamu harus bisa menerima keadaan mu yang hidup di kaki gunung kapur. Asal kamu tahu  jangankan ibu berfikiran untuk membeli roti sama susu biar kaya orang belanda dulu mereka pintar tapi kepintarannya untuk menindas rakyat Indonesia, lebih baik ibu memikirkan bagaimana membayar sekolah mu” jawab ibu dengan raut muka yang berbeda dari awal perbincangan.” Iya,,,maaf ya bu, pisangnya enak besok masak lagi ya bu? “ ku merayu dengan senyuman lugu agar ibu  tidak  tersinggung. “ Sudahlah nak makan nasi sama ikan asin yang uadah ibu masak sana kalo memang kamu gak suka sarapan singkong sama pisang” jawab ibu dengan lembut.
            Ibu terlihat diam setelah obrolanku, hati ini terasa ada yang mengganjal seakan ku telah membakar kampung tempat tinggalku, penyesalan tak cukup ku ungkapkan. Tapi Ayahku memang tak banyak bicara tapi ketika beliau mengeluarkan kata-kata maka seketika itu juga perhatian  akan tertuju pada pembicaraannya, “hudup di sebuah desa yang mana hampir masuk di kanbuten seberang, memang  banyak yang bilang kalo desa kita banyak  tertinggal dari pada yang tempat tinggalnya di pusat kabupaten, desa tempat tinggal ku sebagai kampung halaman yang berharga bagi yang ku sehingga ku harus berusaha mensyukurinya” pikir ku dalam hati.
            Ku mulai berfikir makna dari perkataan ayah, terlihat jelas wajahku yang masih menguak maksud dari perkataan ayah, ibu ikut menambahkan dalam kediaman “ iya, benar kita hanya mampu menikmati apa yang ada di alam tanpa harus mencacinya tapi mengelola alam untuk bertahan hidup tapi tidak merusaknya  dan yang terpenting selalu bersyukur pada sang maha kuasa”.
            Pikiranku  mulai mendapat titik terang dari inti perbincangan ayah dan ibu di  ruang makan, heran tarasa mengapa bapak dan ibu tidak berbicara makna dari apa yang mereka bicarakan, muncul pertanyaan dalam hati kecil ku tapi ku coba memberanikan diri memberi tanggapan “ Ya kita memang tinggal di kampung sebagai tempat tinggal, apa itu maksud dari pembicaraan kita sekarang ini bu?”. “ Ibu senang kamu sudah  memberi tanggapan dari banyak hal yang sudah kita bicarakaan nak, tapi apa kamu tahu  apa yang bermakana dari sejak kamu kecil tinggal di kampung ini nak? Saut ibu dari pertanyaanku ”.  Kembali ibu membuat ku terdiam sejenak dengan berfikir kebingungan dalam hati karena ku belum mengetahui jawaban yang tepat yang bisa ku katakana pada ibu, terlihat semakin jelas di raut wajahku dengan kebingunangan.
            Bapak  hanya mendengarkan dan dengan kebiasaannya saat ku sedang berfikir mencari jawaban tangan kanannya bermain mengetuk meja dengan jari manisnya, seakan tiap ketukan menandakan detikan-detikan dalam jam dinding semakin cepat sehingga bertambah rasaku tegang dengan pertanyaan yang ibu sodorkan pada ku, ku takut salah menjawab dan membuat bapak  dan ibuku kecewa. “ jangan bingung nak, apa yang kamu  rasakan bermakna tinggal di kampung ini? Tanya ulang ibu. “em,,,,bisa hidup bahagia di kampung halaman yang masih alami  “ jawabku dengan ragu. “Oh jadi itu pandanganmu nak, ayah mengerti kenapa tadi di awal sewaktu kita baru memulai sarapan kamu mengatakan apa kita tidak bosan  sarapan pagi dengan memakan pisang, singkong, atau ubi yang hanya cukup kita rebus dan kita bisa menikmatinya,  karena sebenarnya kita tinggal dikampung itu lebih nikmat dan dapat merasakan keistimewaannya dengan hidup sehat berawal dengan mengkonsumsi makanan dari alam dan tidak menggunakan banyak bahan kimia yang berbahaya yang mampu merusak tubuh dan menyebabkan banyak penyakit, ini baru awal yang bisa kita langsung rasakan, keluarga kita bisa seperti sekarang ini bisa menyekolahkan mu sampai jenjang SMA dan ayah sudah mampu daftar Haji itu karna kita mampu mengolah kebun meski di kaki gunung kapur sebagai penghasilan terbesar bagi keluarga kita,  jika kita tidak mampu  maksimal  dalam mengurus sawah dan kebun. Maka   kita akan merasakan hidup susah di kampung dan akan sengsara, dengan serba kekurangan. Maka  nak kita harus bisa bersyukur dengan apa yang ada di dekat kita ” perjelas ayah padaku.
            Terasa  kehangatan  keluarga yang menyelimuti  hanya terpaku dan mengangguk-anggukan kepala memahami  perbincangan di rung makan, tapi ku bisa merasakan betapa berharganya kita untuk bisa melihat segi positif dari apa yang ada di depan mata, mataku memandang bapak dan ibu yang sudah selasai sarapan dan hendak kembali pada kesibukan  pergi  ke sawah dan kebun. Kampungku sungguh indah rupamu yang terbalut dengan kesederhanaan orang yang mendiamimu, tapi kau selau bersinar terang seperti mutiara yang berada di kaki gunung kapur dengan keberadaanmu masyarakat bisa hidup makmur.
 #KaryaAsta Tuti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar