“Sepercik Mutiara Di Kaki Gunung
Kapur”
Terasa hembusan angin pagi dengan
cahaya yang masih meredup diufuk timur gunung kapur, rerumputan basah di depan
rumah, ayam mulai keluar dari kandang, suara merdu indah di dengar telinga dari
teriakan si ayam jago kesayangan ayah, ayah yang sedang menikmati ketenangan
dan kesunyian pagi di teras rumah selagi menungu mentari pagi memperihatkan
diri. Dengan kostum khasnya ayah setiap
pagi dengan membawa karung putih yang
biasa digunakan saat mencari rumput di
sawah dekat kaki gunung kapur. Kehangatan sang mentari menemani ayahku beranjak
dari singgahannya di teras rumah dengan semangat.
Saat ayah beranjak ku memulai hari
dengan melangkah membersihkan pelataran rumah cukup dengan mengunakan tanganku yang masih merasa dingin terkena embun pagi yang begitu tebal,
ku bisa melihat di sebelah barat rumahku terdapat sepetak sawah dengan padi
yang mulai merunduk berwarna kuning yang berarti sebentar lagi musim panen padi. Tapi saat ku mulai berjalan melihat dibelakang rumah
terlihat beberapa macam tanaman berdaun hijau hanya pohon singkong dan pisang, hembusan
nagin membuat hidungku mencium harum masakan menyerbak dari dapur rumahku, ini pertanda aku harus segera menyesaikan
tugasku dan bisa segera menikmati sajian yang sudah ibu persiapkan, tak sadar tangan ku tertusuk duri dari bunga putri malu
dan durinya membatku menangis, seperti anak bayi. Malu terasa menusuk hati seperti
duri dalam diri karena ku takut dengan darah yang ada ditanganku. Namun
sentuhan ibu membuatku merasa seperti rumput yang mendapat sentuhan angin halus
dan membendung rasa sakit, dengan senyuman ku tersipu malu pada ibu. Ibu hanya
tersenyum melihat tingkah keanak-anakan ku yang belum usai meski usiaku sudah
masuk masa remaja.
Sinar matahari semakin terang dan
menandakan ayah pulang dengan membawa sekarung rumput yang hijau untuk kuda dan
kambing dengan keringat bercucuran, terasa
berat hidup di kaki gunung kapur meski dekat dengan area persawahan dan
tak tertinggal kebun menjadi bagian dari keseharian keluargaku. Seperti biasa
ayah bergegas mandi dan sarapan dengan beberapa potong rebusan singkong dan pisang. Tak sengaja ku berkata ” Pak apa ga bosan tiap pagi kita makannya kaya gitu ajah? Beli
roti sama susu atau apalah biar enak”.
“ kalau mengikuti zaman yang semakin
maju kita bisa hidup seperti orang kota, apa itu yang kamu inginkan nak?” jawab
ibu selagi mencairkan suasana
“ Maksud ku ga begitu loh bu,,,apa
sih enaknya kita sarapan pagi dengan singkong dan pisang, apalagi bapak hampir
setiap pagi, iya ga pak?” Ujarku memperkuat pertanyaan mencari dukungan dari
bapak. “Udah makan saja nak, bukannya bersyukur masih bisa makan, jadi anak
kamu harus bisa menerima keadaan mu yang hidup di kaki gunung kapur. Asal kamu
tahu jangankan ibu berfikiran untuk
membeli roti sama susu biar kaya orang belanda dulu mereka pintar tapi
kepintarannya untuk menindas rakyat Indonesia, lebih baik ibu memikirkan
bagaimana membayar sekolah mu” jawab ibu dengan raut muka yang berbeda dari
awal perbincangan.” Iya,,,maaf ya bu, pisangnya enak besok masak lagi ya bu? “
ku merayu dengan senyuman lugu agar ibu
tidak tersinggung. “ Sudahlah nak
makan nasi sama ikan asin yang uadah ibu masak sana kalo memang kamu gak suka
sarapan singkong sama pisang” jawab ibu dengan lembut.
Ibu terlihat diam setelah obrolanku,
hati ini terasa ada yang mengganjal seakan ku telah membakar kampung tempat
tinggalku, penyesalan tak cukup ku ungkapkan. Tapi Ayahku memang tak banyak
bicara tapi ketika beliau mengeluarkan kata-kata maka seketika itu juga
perhatian akan tertuju pada pembicaraannya,
“hudup di sebuah desa yang mana hampir masuk di kanbuten seberang, memang banyak yang bilang kalo desa kita banyak tertinggal dari pada yang tempat tinggalnya
di pusat kabupaten, desa tempat tinggal ku sebagai kampung halaman yang
berharga bagi yang ku sehingga ku harus berusaha mensyukurinya” pikir ku dalam
hati.
Ku mulai berfikir makna dari
perkataan ayah, terlihat jelas wajahku yang masih menguak maksud dari perkataan
ayah, ibu ikut menambahkan dalam kediaman “ iya, benar kita hanya mampu
menikmati apa yang ada di alam tanpa harus mencacinya tapi mengelola alam untuk
bertahan hidup tapi tidak merusaknya dan
yang terpenting selalu bersyukur pada sang maha kuasa”.
Pikiranku mulai mendapat titik terang dari inti
perbincangan ayah dan ibu di ruang makan,
heran tarasa mengapa bapak dan ibu tidak berbicara makna dari apa yang mereka
bicarakan, muncul pertanyaan dalam hati kecil ku tapi ku coba memberanikan diri
memberi tanggapan “ Ya kita memang tinggal di kampung sebagai tempat tinggal, apa
itu maksud dari pembicaraan kita sekarang ini bu?”. “ Ibu senang kamu
sudah memberi tanggapan dari banyak hal
yang sudah kita bicarakaan nak, tapi apa kamu tahu apa yang bermakana dari sejak kamu kecil
tinggal di kampung ini nak? Saut ibu dari pertanyaanku ”. Kembali ibu membuat ku terdiam sejenak dengan
berfikir kebingungan dalam hati karena ku belum mengetahui jawaban yang tepat
yang bisa ku katakana pada ibu, terlihat semakin jelas di raut wajahku dengan kebingunangan.
Bapak hanya mendengarkan dan dengan kebiasaannya
saat ku sedang berfikir mencari jawaban tangan kanannya bermain mengetuk meja
dengan jari manisnya, seakan tiap ketukan menandakan detikan-detikan dalam jam
dinding semakin cepat sehingga bertambah rasaku tegang dengan pertanyaan yang
ibu sodorkan pada ku, ku takut salah menjawab dan membuat bapak dan ibuku kecewa. “ jangan bingung nak, apa
yang kamu rasakan bermakna tinggal di
kampung ini? Tanya ulang ibu. “em,,,,bisa hidup bahagia di kampung halaman yang
masih alami “ jawabku dengan ragu. “Oh
jadi itu pandanganmu nak, ayah mengerti kenapa tadi di awal sewaktu kita baru
memulai sarapan kamu mengatakan apa kita tidak bosan sarapan pagi dengan memakan pisang, singkong,
atau ubi yang hanya cukup kita rebus dan kita bisa menikmatinya, karena sebenarnya kita tinggal dikampung itu
lebih nikmat dan dapat merasakan keistimewaannya dengan hidup sehat berawal
dengan mengkonsumsi makanan dari alam dan tidak menggunakan banyak bahan kimia
yang berbahaya yang mampu merusak tubuh dan menyebabkan banyak penyakit, ini
baru awal yang bisa kita langsung rasakan, keluarga kita bisa seperti sekarang
ini bisa menyekolahkan mu sampai jenjang SMA dan ayah sudah mampu daftar Haji
itu karna kita mampu mengolah kebun meski di kaki gunung kapur sebagai
penghasilan terbesar bagi keluarga kita,
jika kita tidak mampu
maksimal dalam mengurus sawah dan
kebun. Maka kita akan merasakan hidup susah
di kampung dan akan sengsara, dengan serba kekurangan. Maka nak kita harus bisa bersyukur dengan apa yang
ada di dekat kita ” perjelas ayah padaku.
Terasa kehangatan
keluarga yang menyelimuti hanya
terpaku dan mengangguk-anggukan kepala memahami
perbincangan di rung makan, tapi ku bisa merasakan betapa berharganya
kita untuk bisa melihat segi positif dari apa yang ada di depan mata, mataku
memandang bapak dan ibu yang sudah selasai sarapan dan hendak kembali pada
kesibukan pergi ke sawah dan kebun. Kampungku sungguh indah rupamu
yang terbalut dengan kesederhanaan orang yang mendiamimu, tapi kau selau
bersinar terang seperti mutiara yang berada di kaki gunung kapur dengan
keberadaanmu masyarakat bisa hidup makmur.
#KaryaAsta Tuti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar